Tentang Kami

[vc_row][vc_column width=”2/3″][vc_column_text]

Sepertiga miliar dunia tinggal di pedesan. Merekea keluarga-keluarga yang melakukan kegiatan pertnian, disebut pertanian keluarga (Family Farming) .

Di dalam pertanian keluarga, suami dan/atau istri Bersama anggota keluarga terlibat langsung dalam kegiatan usaha tani (termasuk beternak, menangkap/memlihara ikan, mengambil hasil hutan non kayu.

Menggembala ternak di padang rumput, dan lain-lain yang menjadi sumber utama penghasilan keluarga. Setengah dari jumlah itu, sekitar 1,5 miliar perempuan dan laki-laki petani mengusahakan lahan kurang dari 2 hektar, sementara 410 juta orang mengumpulkan hasil hutan, 100-200- juta orang menggembala ternak, dan 100 juta orang berprofesi sebagai nelayan kecil.

Serta 370 juta linnya adalah kelompok masyarakat adat yang Sebagian besar Bertani. selain itu, masih ada 800 juta orang yang bercocok tanam di pekarangan rumah di perkotaan.

Itulah pertanian keluarga, basis produksi pangan yang berkelanjutan, yang bertujuan mencapai ketahanan dan kedaulatan pangan, mengelola dan menjaga kelestarian lingkungan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan, serta menjadi landasan bagi pelestarian warisan social-budaya bangsa-bangsa dan komunitas pedesaan di seluruh dunia.

Tak heran, jika Pertanian Keluarga berkontribusi 70 persen paskan pangan dunia,

Sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan bangsa-bangsa di dunia kepada keluarga-keluarga petani kecil di dunia atas peran penting mereka dalam menjaga pasokan pangan dunia, maka pada desember 2011 Perserikatan Bangsa-bangsa menetapkan tahun 2014 sebagai Tahun Internasional Pertanian Keluarga (International Year of Family Farming/IYFF).

Sayangnya, keluarga-keluarga petani kecil itu sering terdampak keadaan yang tidak mendukung mereka, termasuk kebijakan public tentang Pertanian Keluarga di negara-negara masing-masing.

Seperti terbatasnya akses mereka ke lahan dan sumber daya agrarian lainnya, akses ke pembiayaan/permodalan, teknologi tepat guna, serta akses pasar yang memungkinkan usaha pertanian keluarga menjadi bagian bernilai ekonomi yang bermartabat bagi keluarga-keluarga petani kecil.

Pada Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014, telah banyak inisiatif yang dilakukan oleh negara-negara, pemerintah dan oragnisasi-organisasi masyarakat di dunia yang menghasilkan capaian-capaian penting.

Oleh karena itu, untuk lebih mendorong inisiatif peningkatan kesejahteraan petani kecil, baik perempuan maupun laki-laki yang berdaulat dan bermartabat, World Rural Forum (WRF) Bersama organisasi-organisasi masyarakat di berbagai negara bersamabeberapa pemerintah negara yang mendukung Pertanian Keluarga, mendesak pengakuan atas kontribusi global keluarga kecil oleh PBB dengan menetapkan “ Dasawarsa Internasional Pertanian Keluarga, 2015-2025”.

Salah satu aksi global untuk mendukung kemajuan Pertanian Keluarga adalah mendirikan Komite Nasional Pertanian Keluarga di berbagai negara.

Indonesia menjadi salah satu negara yang telah mendirikan Komite Nasional Pertanian Keluarga (KNPK) yaitu pada Juli 2014. Saat ini KNPK Indonesia beranggotakan 13 Organisasi petani, nelayan, Lembaga swadaya masyarakat, pemuda, dan konsumen, yaitu :

  1. Aliansi Organis Indonesia (AOI)
  2. Aliansi Petani Indonesia (API)
  3. Aliansi Perempuan Petani Indonesia (APPI)
  4. Bina Desa
  5. Field
  6. FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia)
  7. FPPS (Front Perjuangan Petani Sulawesi Selatan)
  8. IHCS (Indonesian Human Rights Committee for Social Justice)
  9. IPPHTI (Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu)
  10. Sains (Sajgyo Institute)
  11. Slow Food Jabodetabek
  12. SNI (Serikat Nelayan Indonesia)
  13. SPPQT (Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah)

Saat ini KNPK Indonesia sedang melakukan berbagai kegiatan, di antaranya advokasi kebijakan pubik mengenai Pertanian Keluarga, dialog kebijakan dengan multipihak, penelitian, penyadaran masyarakat, dokumentasi, dan penyebarluasan informasi mengenai Pertanian Keluarga dalam berbagai bentuk.

[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/3″][vc_single_image image=”520″ img_size=”full” alignment=”center”][/vc_column][/vc_row]

Salah satu aksi global untuk mendukung kemajuan Pertanian Keluarga adalah mendirikan Komite Nasional Pertanian Keluarga di berbagai negara.

Indonesia menjadi salah satu negara yang telah mendirikan Komite Nasional Pertanian Keluarga (KNPK) yaitu pada Juli 2014. Saat ini KNPK Indonesia beranggotakan 13 Organisasi petani, nelayan, Lembaga swadaya masyarakat, pemuda, dan konsumen, yaitu :

  1. Aliansi Organis Indonesia (AOI)
  2. Aliansi Petani Indonesia (API)
  3. Aliansi Perempuan Petani Indonesia (APPI)
  4. Bina Desa
  5. Field
  6. FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia)
  7. FPPS (Front Perjuangan Petani Sulawesi Selatan)
  8. IHCS (Indonesian Human Rights Committee for Social Justice)
  9. IPPHTI (Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu)
  10. Sains (Sajgyo Institute)
  11. Slow Food Jabodetabek
  12. SNI (Serikat Nelayan Indonesia)
  13. SPPQT (Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah)

Saat ini KNPK Indonesia sedang melakukan berbagai kegiatan, di antaranya advokasi kebijakan pubik mengenai Pertanian Keluarga, dialog kebijakan dengan multipihak, penelitian, penyadaran masyarakat, dokumentasi, dan penyebarluasan informasi mengenai Pertanian Keluarga dalam berbagai bentuk.

[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/3″][vc_single_image image=”520″ img_size=”full” alignment=”center”][/vc_column][/vc_row]